Kamis, 29 Agustus 2019


Pintu Kaca Tak Tertembus Pandang
Terang  lampu berwarna putih memantul lantai menembus mata yang mulai memerah karena lelah. “Kapan semua ini akan selesai? Jika aku pulang sekarang apa aku akan menyesalinya kelak?” ucapku dalam hati. Hawa ruangan tumah sakit terasa sangat dingin mengingatkanku atas senyum hangatnya yang kunantikan. Mata lelahku semakin memerah ketika melihat layarku. Ibu yang mulai menyadari lelahku ini berkata padaku “pulang aja besok berangkat sekolah kan?”. Sembari berpamitan hati kecilku seakan akan berkata aku masih ingin menemaninya disini.
Seperti kebanyakan siswa setelah melewati ujian nasional, aku memiliki banyak waktu luang. Karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat berada dirumah aku langsung menghampiri tempat tidurku.
“oh, sudah pagi ya” ucapku sembari mematikan alarm yang terus berbunyi.
Aku mulai melangkah kea rah kamar mandi untuk membasuh muka dan sikat gigi. Tak terasa aku sudah akan mengenakan celana abu abu, aku masih ingin bermain dan menghabiskan waktu bersama teman serta keluargaku. Namun, aku harus mulai mengambil langkah ke depan. Namun yang perlu aku lakukan disaat seperti ini hanyalah menunggu.
Hari per hari telah terlalui, aku biasanya mengisi liburanku dengan temanku. Bermain bermain dan bermain, tak kusangka aku melupakan suatu hal. Kakakku yang masih terbaring dikamar, sudah lama aku tidak berbicara bahkan mengunjunginya. Tak tega mataku melihat kondisinya saat itu, hanya heran yang mengisi otakku saat itu, kenapa rumah sakit membiarkan kakakku dirawat di rumah, dengan kondisinya yang sangat buruk seperti itu harusnya dia masih berada di rumah sakit. Budhe berkata padaku kalau rumah sakit mendiagnosis bahwa kakakku mengalami tifus, jadi tidak apa apa jika dia dibawa pulang kerumah
Kubuka pintu hubung rumah antara rumahku dengan rumah keluarga budhe. Hatiku terasa teriris ketika pacar kakakku membantu mengenakan sandal kakakku. Kakakku yang bahkan tak dapat mengenakan sandal sendiri meminta untuk dibelikan es krim. Iya, hanya sebungkus es krim. Aku tidak tahu apa yang ada di otaknya waktu itu, dia tidak mau duduk menunggu pacarnya membelikan es krim untuknya. Dia ingin mengikuti pacarnya membeli es krim tersebut.
“kenapa aneh aneh sih, padahal tinggal nunggu aja harusnya” ucapku
“pengen nemenin Rio beli sekalian milih ehehehe”balasnya sambal ketawa.
Di hari hari setelah itu aku selalu menghabiskan liburanku dikamar bermain game atau hanya menonton film di computer. Karena aku sendiri juga sedang mengalami beberapa masalah, aku mengalihkannya dengan bermain game sampai tidak tahu waktu. Terkadang aku juga menonton film sampai subuh. Hal ini yang membuatku juga lupa akan kondisi kakakku lagi, aku menjadi jarang menengoknya.
Pada suatu saat disore hari aku yang baru pulang terheran, kenapa dirumah banyak sekali motor. Aku langsung masuk kerumah budhe. Ternyata motor motor itu adalah motor para tamu yang menjenguk kakakku yang sakit.
Mataku melotot kaget saat melihat kondisi kakakku semakin kurus kering itu. Rasanya semakin hari semakin kurus. Aku amat sangat bingung terhadap kakakku yang semakin lama kondisinya tidak membaik justru malah memburuk. Terlintas dibenakku perkataan budhe dulu.
“kalau ini hanya tifus kenapa sampai seperti itu”ucapku dalam hati
Keesokan harinya aku diberi kabar kalau kakakku dipindah rumah sakit ke semarang. Aku heran kenapa sampai dibawa ke semarang, tidak mungkin jika hanya karna penyakit tifus itu. Aku masih berada di Salatiga saat itu. Aku berada dirumah sendirian pada hari itu karena ibu dan ayahku juga berada di semarang, dan aku baru akan dijemput ke sana saat sore hari.
Senja pun datang, jingganya langit diatas rumah sakit itu pun masih ku ingat. Aku masih tidak boleh memasuki ruangan kakak kata dokter. Aku hanya bisa menunggu dan berdoa untuk kakakku diruang tunggu.
Hatiku semakin teriris ketika melihat pacar kakakku yang berdiri menempel tembok hanya untuk melihat kakakku yang tertidur di kasur ruangan itu melalui sela sela jendela ruangan. Air mata membasahi pipinya, mata merah serta muka pucat itu membuatku semakin ikut sedih melihatnya. Kakinya mulai terlihat tidak kokoh dan hamper jatuh namun pamanku langsung menghampirinya dan menyuruhnya untuk duduk menunggu dokter dengan sabar.
Adzan berkumandang aku langsung mengambil segelas air untuk membatalkan puasa. Sebelum aku makan seperti biasa ibuku menyuruhku pergi solat dahulu.
“mas Rio ayo solat dulu aja” ucapku mengajaknya ke mushola
Dia hanya mengangguk dan mengikutiku pergi ke mushola sambal menghapus air matanya yang membasahi mukanya. Dijalan dia sempat berbincang sedikit denganku, sesampainya di mushola dia mulai mengambil air wudhu dan mulai sholat. Setelah sholat seperti biasa aku dan Rio berdoa dulu. Kulihat dia berdoa bersungguh sungguh sambal menangis. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanya waktu itu, dia sudah berkata kepada budhe untuk membawa orang tuanya kerumah untuk melamar kakakku dan sudah berencana menikah setelah kakak wisuda. Sudah jelas remuk hatinya saat melihat calon istrinya tertidur di kasur rumah sakit tak berdaya seperti itu.
“ya mau gimana lagi, So. aku sayang banget sama mba Sa, tapi kalau Allah lebih saying aku bisa apa. Sekarang kan Cuma bisa pasrah nunggu Allah berkehendak” ucapnya sambal menahan tangis
“yang sabar, ayo balik”
Beberapa saat setelah Aku dan Rio kembali ke ruang tunggu, dokter berkata kalau kakakku harus dipindah ke rumah sakit lain karena di rumah sakit itu tidak memiliki alat untuk mengatasi penyakit kakakku. Aku tidak begitu paham kondisi kakak saat itu, hanya kesedihan yang ada di otakku..
Setelah kakakku dipindah rumah sakit aku pun menyusul dengan mobil. Sesampainya disana ternyata Mas Angga kakakku yang dari Jakarta juga sudah berada di sana. Mas Angga mengajak Mas Rio untuk cari minum karena Mas Rio selama beberapa hari tidak makan, hanya roti dan minum kopi saat buka puasa. Aku sempat menawarinya makan, namun dia menolak. Dia berkata “nemenin Mba Sa ek, so” semakin teriris hatiku mendengarnya.
Malam itu aku tidak diperbolehkan untuk memasuki ruangan kakakku yang aku bisa lakukan hanya memandang pintu kaca tak tembus pandang untuk memasuki ruangan itu. Aku tak bisa melihat ke dalamnya, karena itu aku mulai sedikit jenuh. Aku pun mengunjungi taman rumah sakit tersebut untuk menghilangkan rasa jenuhku. Terkadang aku melihat pacar kakakku itu mondar mandir ditaman.
Berjam jam aku menunggu dan tidak bisa tidur, yang kulakukan hanya menatap layar hpku. Ibuku menyuruhku untuk makan untuk sahur. Setelah aku makan aku memutuskan untuk tidur dilantai ruang tunggu.
“bangun, liat Mba Sa buat terakhir kali. Kalo ga sekarang nanti kamu nyesel gabisa liat lagi” ucap ibuku membangunkanku.
Akupun langsung bergegas membuka pintu kaca itu, dibaliknya terpampang jelas dimataku kakakku yang tertidur dikasur tersebut sudah meninggal. Mas Rio pacar kakakku menangis sambal menggenggam tangan kakakku yang dingin itu. Aku tak berkata apa pun, atau bisa kusebut tak bisa berkata apa pun. Setelah beberapa saat aku disuruh keluar untuk bergantian melihat kakakku. Aku langsung lari keluar menuju kamar mandi di rumah sakit itu. Pipiku terbasahi oleh air mata yang terus mengalir, terkadang aku berteriak ketika mengingat kakakku.
Terbayang dibenakku kata kata kakakku yang disampaikan budhe “mah adek abis ini sembuh kan? Adek mau dianter pulang pake baju putih ya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar