Pintu Kaca Tak Tertembus
Pandang
Terang lampu berwarna putih memantul lantai menembus
mata yang mulai memerah karena lelah. “Kapan semua ini akan selesai? Jika aku
pulang sekarang apa aku akan menyesalinya kelak?” ucapku dalam hati. Hawa ruangan
tumah sakit terasa sangat dingin mengingatkanku atas senyum hangatnya yang
kunantikan. Mata lelahku semakin memerah ketika melihat layarku. Ibu yang mulai
menyadari lelahku ini berkata padaku “pulang aja besok berangkat sekolah kan?”.
Sembari berpamitan hati kecilku seakan akan berkata aku masih ingin menemaninya
disini.
Seperti kebanyakan siswa setelah
melewati ujian nasional, aku memiliki banyak waktu luang. Karena aku tidak tahu
apa yang harus aku lakukan saat berada dirumah aku langsung menghampiri tempat
tidurku.
“oh, sudah pagi ya” ucapku sembari
mematikan alarm yang terus berbunyi.
Aku mulai melangkah kea rah kamar
mandi untuk membasuh muka dan sikat gigi. Tak terasa aku sudah akan mengenakan
celana abu abu, aku masih ingin bermain dan menghabiskan waktu bersama teman serta
keluargaku. Namun, aku harus mulai mengambil langkah ke depan. Namun yang perlu
aku lakukan disaat seperti ini hanyalah menunggu.
Hari per hari telah terlalui, aku
biasanya mengisi liburanku dengan temanku. Bermain bermain dan bermain, tak
kusangka aku melupakan suatu hal. Kakakku yang masih terbaring dikamar, sudah
lama aku tidak berbicara bahkan mengunjunginya. Tak tega mataku melihat
kondisinya saat itu, hanya heran yang mengisi otakku saat itu, kenapa rumah
sakit membiarkan kakakku dirawat di rumah, dengan kondisinya yang sangat buruk
seperti itu harusnya dia masih berada di rumah sakit. Budhe berkata padaku kalau
rumah sakit mendiagnosis bahwa kakakku mengalami tifus, jadi tidak apa apa jika
dia dibawa pulang kerumah
Kubuka pintu hubung rumah antara
rumahku dengan rumah keluarga budhe. Hatiku terasa teriris ketika pacar kakakku
membantu mengenakan sandal kakakku. Kakakku yang bahkan tak dapat mengenakan
sandal sendiri meminta untuk dibelikan es krim. Iya, hanya sebungkus es krim. Aku
tidak tahu apa yang ada di otaknya waktu itu, dia tidak mau duduk menunggu
pacarnya membelikan es krim untuknya. Dia ingin mengikuti pacarnya membeli es
krim tersebut.
“kenapa aneh aneh sih, padahal
tinggal nunggu aja harusnya” ucapku
“pengen nemenin Rio beli sekalian
milih ehehehe”balasnya sambal ketawa.
Di hari hari setelah itu aku selalu
menghabiskan liburanku dikamar bermain game atau hanya menonton film di computer.
Karena aku sendiri juga sedang mengalami beberapa masalah, aku mengalihkannya
dengan bermain game sampai tidak tahu waktu. Terkadang aku juga menonton film
sampai subuh. Hal ini yang membuatku juga lupa akan kondisi kakakku lagi, aku
menjadi jarang menengoknya.
Pada suatu saat disore hari aku
yang baru pulang terheran, kenapa dirumah banyak sekali motor. Aku langsung
masuk kerumah budhe. Ternyata motor motor itu adalah motor para tamu yang
menjenguk kakakku yang sakit.
Mataku melotot kaget saat melihat
kondisi kakakku semakin kurus kering itu. Rasanya semakin hari semakin kurus. Aku
amat sangat bingung terhadap kakakku yang semakin lama kondisinya tidak membaik
justru malah memburuk. Terlintas dibenakku perkataan budhe dulu.
“kalau ini hanya tifus kenapa
sampai seperti itu”ucapku dalam hati
Keesokan harinya aku diberi kabar
kalau kakakku dipindah rumah sakit ke semarang. Aku heran kenapa sampai dibawa
ke semarang, tidak mungkin jika hanya karna penyakit tifus itu. Aku masih
berada di Salatiga saat itu. Aku berada dirumah sendirian pada hari itu karena
ibu dan ayahku juga berada di semarang, dan aku baru akan dijemput ke sana saat
sore hari.
Senja pun datang, jingganya langit
diatas rumah sakit itu pun masih ku ingat. Aku masih tidak boleh memasuki
ruangan kakak kata dokter. Aku hanya bisa menunggu dan berdoa untuk kakakku diruang
tunggu.
Hatiku semakin teriris ketika
melihat pacar kakakku yang berdiri menempel tembok hanya untuk melihat kakakku
yang tertidur di kasur ruangan itu melalui sela sela jendela ruangan. Air mata
membasahi pipinya, mata merah serta muka pucat itu membuatku semakin ikut sedih
melihatnya. Kakinya mulai terlihat tidak kokoh dan hamper jatuh namun pamanku
langsung menghampirinya dan menyuruhnya untuk duduk menunggu dokter dengan
sabar.
Adzan berkumandang aku langsung
mengambil segelas air untuk membatalkan puasa. Sebelum aku makan seperti biasa
ibuku menyuruhku pergi solat dahulu.
“mas Rio ayo solat dulu aja” ucapku
mengajaknya ke mushola
Dia hanya mengangguk dan
mengikutiku pergi ke mushola sambal menghapus air matanya yang membasahi
mukanya. Dijalan dia sempat berbincang sedikit denganku, sesampainya di mushola
dia mulai mengambil air wudhu dan mulai sholat. Setelah sholat seperti biasa
aku dan Rio berdoa dulu. Kulihat dia berdoa bersungguh sungguh sambal menangis.
Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanya waktu itu, dia sudah berkata kepada
budhe untuk membawa orang tuanya kerumah untuk melamar kakakku dan sudah
berencana menikah setelah kakak wisuda. Sudah jelas remuk hatinya saat melihat
calon istrinya tertidur di kasur rumah sakit tak berdaya seperti itu.
“ya mau gimana lagi, So. aku sayang
banget sama mba Sa, tapi kalau Allah lebih saying aku bisa apa. Sekarang kan Cuma
bisa pasrah nunggu Allah berkehendak” ucapnya sambal menahan tangis
“yang sabar, ayo balik”
Beberapa saat setelah Aku dan Rio
kembali ke ruang tunggu, dokter berkata kalau kakakku harus dipindah ke rumah
sakit lain karena di rumah sakit itu tidak memiliki alat untuk mengatasi
penyakit kakakku. Aku tidak begitu paham kondisi kakak saat itu, hanya
kesedihan yang ada di otakku..
Setelah kakakku dipindah rumah
sakit aku pun menyusul dengan mobil. Sesampainya disana ternyata Mas Angga
kakakku yang dari Jakarta juga sudah berada di sana. Mas Angga mengajak Mas Rio
untuk cari minum karena Mas Rio selama beberapa hari tidak makan, hanya roti
dan minum kopi saat buka puasa. Aku sempat menawarinya makan, namun dia
menolak. Dia berkata “nemenin Mba Sa ek, so” semakin teriris hatiku
mendengarnya.
Malam itu aku tidak diperbolehkan
untuk memasuki ruangan kakakku yang aku bisa lakukan hanya memandang pintu kaca
tak tembus pandang untuk memasuki ruangan itu. Aku tak bisa melihat ke
dalamnya, karena itu aku mulai sedikit jenuh. Aku pun mengunjungi taman rumah
sakit tersebut untuk menghilangkan rasa jenuhku. Terkadang aku melihat pacar
kakakku itu mondar mandir ditaman.
Berjam jam aku menunggu dan tidak
bisa tidur, yang kulakukan hanya menatap layar hpku. Ibuku menyuruhku untuk
makan untuk sahur. Setelah aku makan aku memutuskan untuk tidur dilantai ruang
tunggu.
“bangun, liat Mba Sa buat terakhir
kali. Kalo ga sekarang nanti kamu nyesel gabisa liat lagi” ucap ibuku
membangunkanku.
Akupun langsung bergegas membuka
pintu kaca itu, dibaliknya terpampang jelas dimataku kakakku yang tertidur
dikasur tersebut sudah meninggal. Mas Rio pacar kakakku menangis sambal menggenggam
tangan kakakku yang dingin itu. Aku tak berkata apa pun, atau bisa kusebut tak
bisa berkata apa pun. Setelah beberapa saat aku disuruh keluar untuk bergantian
melihat kakakku. Aku langsung lari keluar menuju kamar mandi di rumah sakit
itu. Pipiku terbasahi oleh air mata yang terus mengalir, terkadang aku
berteriak ketika mengingat kakakku.
Terbayang dibenakku kata kata
kakakku yang disampaikan budhe “mah adek abis ini sembuh kan? Adek mau dianter
pulang pake baju putih ya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar